Showing posts with label pahlawan. Show all posts
Showing posts with label pahlawan. Show all posts

Monday, December 30, 2013

Seri Tokoh Inspirasi (2) - KHA DAHLAN

Muhammad Darwisy (Nama Kecil Kyai Haji Ahmad Dahlan) dilahirkan dari kedua orang tuanya, yaitu KH. Abu Bakar (seorang ulama dan Khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu kesultanan juga). Ia merupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya.

Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).

Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul’llah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah.

Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).

Seri Tokoh Inspirasi (1) - BUYA HAMKA

Nama panjangnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tapi ia lebih dikenal dengan HAMKA. Seorang ulama yang pernah dilahirkan oleh bangsa Indonesia, yang berpengaruh hingga di kawasan Asia Tenggara. Hamka lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, Putra H. Abdul Karim Amrullah. Seorang tokoh pelopor gerakan Islam “Kaum Muda” di daerahnya.

Hamka hanya sempat masuk sekolah desa selama 3 tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) sekitar 3 tahun. Tapi ia berbakat dalam bidang bahasa dan segera menguasai bahasa Arab; yang membuat ia mampu membaca secara luas literatur Arab, termasuk terjemahan dari tulisan-tulisan Barat. Sebagai putra tokoh pergerakan, sejak kecil Hamka menyaksikan dan mendengar langsung pembicaraan tentang pembaruan dan gerakannya melalui ayah dan rekan-rekan ayahnya.

Hamka dikenal sebagai seorang petualang. Ayahnya bahkan menyebutnya “Si Bujang Jauh”. Pada 1924, dalam usia 16 tahun, ia pergi ke Jawa untuk mempelajari seluk-beluk gerakan Islam modern dari H. Oemar Said Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhammadiyah 1944-1952), RM. Soerjopranoto (1871-1959), dan KH. Fakhfuddin (ayah KH. Abdur Rozzaq Fakhruddin). Kursus-kursus pergerakan itu diadakan di Gedung Abdi Dharmo, Pakualaman, Yogyakarta. Setelah beberapa lama di sana, ia berangkat ke Pekalongan dan menemui kakak ipamya, AR. Sutan Mansur, yang waktu itu menjadi ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Di kota ini ia berkenalan dengan tokoh-tokoh ulama setempat.

Friday, March 8, 2013

Kitalah Pewaris Syuhada Bangsa


Era pasca kemerdekaan, Indonesia terbagi menjadi 3 aliran besar: Nasionalis, Religius dan Komunis. Bung Karno mencoba mengkompromikanya dengan jargon Nasakom (Nasional Agama Komunis). Tahun 66, komunis kalah dalam pertarungan ideologi di bumi Indonesia, maka yang tersisa adalah Nasionalis dan Religius. 

Pak Harto memahami betul kondisi ini, maka dia pun tetap membuatkan tempat tuk aliran-aliran itu agar bisa dalam kendalinya. Maka dibuatlah jalur aliran Hijau, Kuning dan Merah. Agar stabil, maka perlu ada arus yang dominan, maka arus kuning yang dominan dengan komando Doreng. Dibuatlah Repelita tuk mengistiqomahkan dan digaungkan jargon "Pembangunan" oleh sang Bapak Pembangunan.

Si Merah dibuat ada tapi tak berdaya. Namun, Si Merah dalam berbagai kesempatan menerikan "Merdeka" sebagai simbol bahwa merekalah pewaris dari perjuangan kemerdekaan, sebagai klaim bahwa Si Merah adalah yang paling Nasionalis, penerus cita-cita proklamasi.

Si Kuning tak kalah cerdik, dibuatlah film "G30S-PKI" dan "Janur Kuning".  Dalam seremonial peringatan kemerdekaan selalu ditampilkan bahwa TNI lah pewaris sah perjuangan para pahlawan. Diundanglah para veteran sebagai simbol bahwan TNI lah yang berjuang menegakan negeri ini. Agar semakin mengharu biru, di-aransemen-lah lagu-lagu perjuangan "Gugur Bunga" tuk mengiringi Hening Cipta waktu upacara bendera ala militer yang wajib dilakukan.

Kemana si Hijau? Agar tenang, maka si Hijau dikasih tugas mulia; yang satu urus orang menikah dan naik haji sedang yang satunya urus anak-anak sekolah.

Saturday, March 13, 2010

Captain Jack – Pahlawan





Hidup tak berarah . .
Jalan yang tersempit
sangat berliku . .
Dan terkadang kita jatuh. .

Gelap semakin gelap semakin menyesatkan kadang terasa buta. .

Slalu banyak tangan tawarkan pertolongan . .
Namun akhirnya pamrih diharapkan. .
Rahasia dibagi dengan mudahnya terbongkar. .

Ku tak butuh pahlawan. .
Ku tak butuh penyelamat hidup. .
Yang ku butuhkan waktu tuk sembuhkan semua luka. .

Dan semakin sulit temukan orang baik. .
Kemana mereka?? Apakah tlah musnah. .
Bertahan sendiri. . Hanya satu pilihan. .

Ku tak butuh pahlawan .
Ku tak butuh penyelamat hidup . .
Yang ku butuhkan waktu tuk sembuhkan semua luka. .

Tak ada penolong. . !
Tak ada penyelamat. . !
bagi diriku. . .Arrgghh. . . .

Ku tak butuh pahlawan
ku tak butuh penyelamat hidup. .
Yang ku butuhkan waktu tuk sembuhkan semua luka. .