Monday, December 24, 2012

Itu Bukan Hak Saya !!!

Koruptor, Belajarlah dari Agus (Pengembali uang 100 juta rupiah)! Agus Chaerudin, pegawai biasa di salah satu bank swasta menemukan uang 100 juta rupiah, tetapi tidak mengambil untuk dirinya sendiri, dan justru mengembalikannya. Pagi ini ketika saya membaca kisah inspirasional yang diberitakan di harian Kompas 19 Desember 2012 ini, dengan judul kejujuran yang semakin langka itu masih ada, membuat saya menjadi berpikir sehingga menuangkannya dalam tulisan ini.

Kejadian ini berawal ketika Agus sepulang kantor hendak memungut sampah menemukan bundelan uang 100.000 ribu rupiah dalam 10 bundel di belakang tempat sampah bagian teller. Melihat bundelan uang tersebut, Agus langsung berteriak memanggil satpam untuk kemudian mereka mengumpulkan uang tersebut dan menghubungi staf dan pimpinan bank tersebut. Kejadian ini memang sudah terjadi setahun lalu sekitar pertengahan tahun 2011, akan tetapi memaknai peristiwa ini
membuat kita berpikir bahwa ternyata dibalik berita korupsi yang hampir setiap hari selalu menghiasi kolom media massa nasional, masih ada oase di tengah padang gurun korupsi yang mendera negeri ini. Bahkan yang melakukan tindakan ini justru orang kecil yang sebenarnya lebih mudah tergoda untuk melakukan tindakan tidak jujur dan mengambil uang tersebut. Agus sendiri orang yang sederhana, dia dan keluarganya tinggal di rumah petak sederhana. Berdasarkan penuturan istrinya, dia merupakan seorang yang jujur dan taat beribadah.

Sebuah anomali kejujuran yang diperlihatkan Agus ini mungkin juga banyak yang melakukannya, tetapi tidak terekspos oleh media, bahwa masih ada bahkan mungkin cukup banyak masyarakat Indonesia yang jujur dan berintegritas. Saya menjadi berpikir bahwa korupsi itu justru lebih banyak dilakukan oleh mereka yang memiliki uang dan bukan oleh mereka yang butuh uang. Keserakahan dan tidak puas merupakan sifat dasar setiap manusia, oleh karenanya manusia dituntut untuk dapat mengendalikan dirinya dan dapat mencukupkan diri dengan apa yang sudah Penciptanya berikan kepadanya.

Kisah ini menginspirasi saya, apalagi Agus juga memiliki keluarga dan butuh uang untuk kelangsungan keluarganya, akan tetapi dia tidak “menjual” integritas dan kejujurannya hanya demi hal yang sifatnya sementara. Saat ini, saya hanya dapat berharap para koruptor dan yang berencana mau jadi koruptor membaca kisah ini dan menyadari kesalahannya serta tidak melakukannya. Selain itu, kejadian ini juga menepis anggapan bahwa seseorang korupsi karena masalah ekonomi, karena yang saya sering temukan di media, koruptor terbanyak bukan dari kalangan menengah ke bawah tetapi justru kalangan atas alias mereka yang “SUDAH” memiliki uang, jabatan bahkan kekuasaan namun “TIDAK PUAS” dengan apa yang ada dan mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Sumber : harian kompas 19 Desember 2012 oleh Danny Prasetyo

2 comments:

No Sara No Anarki....
klik Select Profile ( pilih name/URL dan isilah namamu selengkapmu gan..)