Monday, October 25, 2010

Aeromonas salmonicida

Sebelum baca artikel tulisan ini , mohon dibaca dulu DISINI


Domain : Bacteria
Kingdom : Proteobacteria
Phylum : Gammaproteobacteria
Class : Aeromonadales
Genus : Aeromonas
Species : A. salmonicida

Binomial name : Aeromonas salmonicida (Lehmann and Neumann 1896) Griffin et al. 1953
SInonim : Bacillus salmonicida (Lehmann and Neumann 1896) Kruse 1896 Bacterium salmonicida Lehmann and Neumann 1896 Proteus salmonicida (Lehmann and Neumann 1896) Pribram 1933

Secara taksonomi Aeromonas salmonicida termasuk dalam famili Vibrinaceae. Genus Aeromonas berasal dari bahasa Latin dan Yunani yang berarti satuan penghasil gas. Sedangkan spesies salmonicida berarti pembunuh salmon. Aeromonas salmonicida berbeda dari anggota genus yang lain karena tidak menghasilkan gas (kecuali sub-spesies masousida) (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Emmerich dan Weibel (1890) pertama kali menemukan Aeromonas salmonicida (sinonim Bacillus salmonicida, Bacterium trutta) pada ikan Trout di Jerman. Aeromonas salmonicida terdiri dari 4 sub spesies, yaitu A. salmonicida; – salmonicida, achromogenes, masoucida, dan smithia. Strain dari Aeromonas salmonicida subspesies salmonicida dapat menimbulkan gejala furunculosis dan dapat menyebabkan septisemia bahkan kematian. Sedangkan sub spesies yang lain tidak menimbulkan gejala yang sama, tetapi sering menyebabkan gejala karakteristik yaitu ulcerasi pada kulit dan kerusakan pada bagian luar tubuh dengan atau sebsekuen septisemia (Holt dkk, 1994).

Aeromonas salmonicida merupakan gram negatif, coccobacillus dengan panjang 2-3 µm, tampak seperti rantai berpasangan, bersifat non motil, tumbuh optimum pada suhu 10-15oC (Duijn, 1973). Koloni kecil, sirkuler transparan, tumbuh setelah 48 jam pada 22-25oC, merupakan bakteri psikrofil tidak tumbuh pada 37oC. Karakteristik A. salmonicida adalah menghasilkan pigmen coklat pada agar tyrosin dan phenyl alanin. Namun ada A. salmonicida lain yang bersifat akromogenik, tidak menghasilkan pigmen coklat merupakan penyebab goldfish ulcer disease. Bakteri ini tidak menghasilkan indol dan urease, produksi oxidase, H2S variable, mengasamkan glukosa, maltose dan manitol, tetapi tidak mengasamkan laktosa. Bakteri yang bersifat akromogenik ini mikroflora di ikan, (Roberts, 1989). A. salmonicida tidak mampu bergerak dan tidak dapat bertahan lama di luar tubuh inangnya, aktivitas tertinggi terjadi pada temperatur 20-23oC (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Medium sized, grey colonies.

Blood Agar plate examined with transmitted light. No haemolysis

Phase contrast

Gram-negative coccobacilli

Wabah Aeromonas pernah terjadi bulan Oktober 1980, terutama di daerah Jawa Barat dan sekitarnya. Kerugian yang ditimbulkannya sangat besar, sebab dalam waktu yang relatif singkat puluhan ton ikan mati secara massal, baik ukuran kecil maupun induk. Aeromonas dapat menyerang semua jenis ikan tawar dan jenis penyakitnya disebut Motil Aeromonas Septicemia (MAS) atau sering juga disebut Hemorrhage Septicemia. Serangan bakteri ini baru terlihat apabila ketahanan tubuh ikan menurun akibat stress yang disebabkan oleh penurunan kualitas air, kekurangan pakan atau penanganan yang kurang cermat (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Penularan bakteri Aeromonas dapat berlangung melalui air, kontak badan, kontak dengan peralatan yang telah tercemar atau karena pemindahan ikan yang terserang Aeromonas dari satu tempat ke tempat lain (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Aeromonas salmonicida dapat langsung diisolasi dari lesi pada kulit, darah ataupun ginjal ikan yang terinfeksi. Mikroorganisme ini hidup baik pada berbagai media, namun yang paling sering digunakan adalah Triptone Soya Agar (TSA). Koloni berukuran kecil, circular, raised. Tumbuh dalam waktu 48 jam pada suhu 22-25oC. Bakteri ini tidak akan tumbuh pada suhu 37oC dan di atas 10 hari, menghasilkan pigmen yang berwarna kecoklatan (Roberts, 1989).

Goldfish ulcer disease in goldfish. Note characteristic sores or ulcers on body

cccAtypical A. salmonicida in silver perch

The blood-filled furuncles are specific to this condition, but are rarely noted because they rupture easily, resulting in ulcerations extending into the muscle

Ulcers develop below the surface of the skin, extending into muscle

Greenback flounder (Rhombosolea tapirina) ventral side with lesion caused by the greenback flounder strain of A. salmonicida

Atlantic salmon infected with greenback flounder strain of atypical A. salmonicida, after cohabitation with infected flounder

A. salmonicida biovar Acheron in Atlantic salmon, known as marine aeromonid disease of salmonids

Ikan yang terserang bakteri Aeromonas biasanya akan memperlihatkan gejala berupa; warna tubuhnya berubah menjadi agak gelap; kulitnya menjadi kasat dan timbul perdarahan yang selanjutnya akan menjadi borok (hemoragi); kemampuan berenangnya menurun dan sering mengap-mengap di permukaan air karena insangnya rusak sehingga sulit bernapas; sering terjadi perdarahan pada organ bagian dalam seperti hati, ginjal maupun limpa, sering pula terlihat perutnya agak kembung (dropsi); seluruh siripnya rusak dan insangnya menjadi berwarna keputih-putihan; mata rusak dan agak menonjol (exopthalmia) (Afrianto dan Liviawaty, 1992). Gejala klinis yang tampak adalah ketika Aeromonas sudah menyerang sistemik (internal), dapat menyebabkan dropsy atau hydrops. Dropsy terjadi ketika aliran cairan tubuh terhenti dan merembes keluar dari kapiler dan masuk ke dalam jaringan, rongga tubuh dan rongga mata. Diagnosa berdasarkan sisik yang menggembung yang biasanya disebabkan kerusakan pada hati dan ginjal (Masada, 2000; Handayani dan Samsudari, 2005; Strohmeyer, 2008).

Aeromonas salmonicida tidak dijumpai di lingkungan yang bebas dari ikan yang sakit atau karier. Selain itu, Aeromonas salmonicida dapat bertahan hidup dalam air atau sedimen selama beberapa hari atau beberapa minggu namun tidak dapat berbiak. Infeksi dapat terjadi kontak dengan ikan sakit, air yang tercemar, alat perlengkapan yang tercemar dan melalui telur yang terinfeksi. Sebagai faktor predisposisi adalah temperatur yang tinggi, kadar oksigen terlarut yang rendah dan populasi ikan yang sangat padat. Penularan secara vertikal juga mungkin tetapi belum terbukti secara nyata. Perkembangan penyakitnya mungkin akut, sub-akut dan kronis, tergantung keadaan lingkungan dan resistensi inang. Furunculosis akut mempunyai masa inkubasi 2-4 hari dari gejala yang terlihat. Penyebab kronik biasanya terjadi pada temperatur di bawah 55oF (35,2oC) dan mempunyai masa inkubasi antara satu sampai beberapa minggu tergantung temperatur air (Pipper, dkk., 1992).

Pada stadium awal secara makroskopik akan terlihat kebengkakan pada daerah subkutan, yang kerapkali mengalami ulcerasi dan akhirnya membentuk cavitasi yaitu ruang berongga. Perubahan lain yang terlihat adanya petechiae pada otot, nekrosis pada ginjal, lien, hepar da otot skelet (Robert, 1989) dan kongesti pada bagian posterior intestinum (Fox, 2002).

Penyakit ini yang ditumbulkan oleh A. salmonicida dikenal dengan sebutan furunculosis (Post, 1983). Meskipun penyakit ini berasal dari nama lesi seperti bisul atau penyebab furunkel yang karakteristik pada lokasi kulit yang terinfeksi kronis dengan A. salmonicida namun lesi ini tidak selalu ada (Cipriano, 1983).

Furunculosis subakut atau kronis pada ikan dewasa menunjukkan letargi, exophtalmia, nekrosis furunkel di kulit, perdarahan di sirip, ventrikulus, otot dan jaringan lain, perdarahan di hati, limpa bengkak dan nekrosis ginjal. Bentuk akut pada ikan dewasa ditandai dengan gejala warna kulit kusam, anoreksia, letargi, dan perdarahan ringan pada pangkal sirip, dinding abdomen, organ viscera dan hati. Penyebaran penyakit cepat, ikan mati dalam 2-3 hari dan mortalitas tinggi (Austin dan Austin, 1987). Biasanya gejala hemoragi sirip dan erosi sirip dada, hemoragi dan petekia hemoragi permukaan perut sering teramati (Schachte, 1983).

Penyakit furunculosis tidak terjadi pada akuarium tetapi mungkin sangat serius pada perairan bebas. Gejala awal penyakit furunculosis timbul pada organ-organ internal. Pada kasus yang sangat berat, ikan akan mati tanpa menunjukkan gejala klinis (Duijn, 1973).

Gambaran mikroskopik terlihat hemoragi dan foki bakteri di jaringan otot jantung, hemapoetik, dan insang. Adanya infiltrasi sel leukosit pada foki berkaitan dengan endotoksin yang dihasilkan oleh bakteri A. salmonicida. Furunkel merupakan foki bakteri terlokalisir pada dermis dan epidermis, diawali dengan hiperemi dan edema fibrin, infiltrasi makrofag dan lekosit polimorfonuklear yang menyebar rata, nekrosis liquefaktif pada pusat lesi dengan deposit fibrin, banyak sel radang mengandung granula melanin (Robert, 1989).

Diagnosa dapat dipermudah dengan adanya catatan sejarah penyakit yang meliputi frekuensi epizootic di daerah yang terserang, sumber ikan, suhu air, dan parameter lingkungan yang lain. Pencegahan terhadap serangan bakteri ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kolam dan kualitas air. Pengendalian bakteri Aeromonas dapat dilakukan dengan antibiotik melalui penyuntikan, perendaman, atau dicampur dengan pakanya (Afrianto dan Liviawaty, 1999). Penggunaan antibiotik dilakukan berdasarkan hasil uji sensitivitas obat. Antibiotik dapat mengobati dengan cepat ikan yang terinfeksi, namun dapat juga menyebabkan timbulnya resisten (Anonim, 2004).




Salmonid fish species from which typical Aeromonas salmonicida has been isolated
Common name Scientific name
Atlantic salmon Salmo salar
Amago salmon Oncorhynchus rhodurus
Brook trout Salvelinus fontinalis
Brown trout Salmo trutta m. lacustris
Chinook salmon Oncorhynchus tshawytscha
Chum salmon Oncorhynchus keta
Coho salmon Oncorhynchus kisutch
Cutthroat trout Salmo clarki
Dolly Varden Salvelinus malma
Japanese char Salvelinus leucomaenis
Lake trout Salvelinus namaycush
Masu salmon Oncorhynchus masou
Pink salmon Oncorhynchus gorbuscha
Pollan Coregonus pollan
Rainbow trout Oncorhynchus mykiss
Sea trout Salmo trutta m. trutta
Sockeye salmon Oncorhynchus nerka



Additional fish species from which typical Aeromonas salmonicida has been isolated
Common name Scientific name
Atlantic cod Gadus morhua
Sea bream Sparus aurata
Turbot Psetta maxima /Scophthalmus maximus
American eel Anguilla rostrata
Brassy minnow Hybognathus hankinsoni
Brook stickleback Culaea inconstans
Carp Cyprinus carpio
Catfish Silurus glanis
Chestnut lamprey Ichthyomyzon castaneum
Common shiner Notropis cornutus
Creek chub Semotilus atromaculatus
European eel Anguilla anguilla
Fathead minnow Pimephales promelas
Goby Cottus gobio
Golden shiner Notemigonus crysoleucas
Groper Roccus mississippiensis
Lamprey Not specified
Minnow Phoxinus phoxinus
Mottled sculpin Cottus bairdi
Northern pike Esox lucius
Paddlefish Polyodon spathula
Redbelly dace Chromomus eos
Smallmouth bass Micropterus dolomieui
Stickleback Gasterosteus aculeatus


Pengobatan dan Pencegahan

Pengobatan ikan yang telah terserang bakteri ini dapat diobati dengan memberikan pakan yang telah dicampur 12 gram sulfamerazin + 6 gram sulfaguanidine untuk setiap 45,5 kg pakan per hari. Pemberian dilakukan selama tiga hari pertama, sedangkan pada tujuh hari berikutnya ikan diberi pakan yang dicampur 4 gram sulfaguanidine per 45,4 kg ikan per hari. Furazolidone juga dapat digunakan untuk memberantas furunculosis dengan cara mencampurkannya ke dalam pakan sebanyak 25-75 mg per Kg berat ikan setiap harinya.  Oxytetracyclin dan Chloromycetin *Chlorampenicol) dapat digunakan dengan mencampurkannya ke dalam pakan sebanyak 1 gram perKg pakan dan diberikan selama 10 hari.
Aquaflor* florfenicol 50%
is an antibiotic feed premix with a broad spectrum of antimicrobial activity. Proven to be highly effective against Aeromonas salmonicida, its excellent safety profile enables administration at every stage of salmon production from parr to market-weight size.

Tribrissen*40% powder
combines trimethoprim and sulfadiazine, exhibiting effective bactericidal activity against a wide range of gram-positive and gram-negative bacterial organisms. Its excellent palatability ensures rapid ingestion and control of furunculosis in salmonid species.

Pencegahan
AquaVac* Furovac 5 is administered by immersion to small fry prior to exposure to the infectious agent and by injection later in the salmon life cycle. This  safe and effective product is highly cost effective and provides the earliest possible protection against both typical and atypical strains of the disease.

Optimum protection develops at 4-5 grams but due to the high incidence of the pathogen in the aquatic environment very often salmon fry and parr are at risk much earlier than this size. The relatively weak immune response of fish of 1gram is enhanced by the highly immunogenic properties of Furovac 5′s unique patented IROMP antigens. (IROMP = Iron Regulated Outer Membrane Protein)

AquaVac* Furovac 5 Oral vaccine is the simplest and most cost effective method of giving a booster vaccination. Especially designed to be mixed with standard salmon diets, this highly effective and palatable formulation should be used between 30 and 60 days after primary immersion vaccination using Furovac 5 immersion at 1 gram.

This vaccine utilizes a unique patented Antigen Protection Vehicle to protect the IROMP antigens through the hostile environment of the feed and then the salmon stomach before delivering them intact and still highly immunogenic to the hind gut. Once released in this area the antigens are taken up across the gut wall and processed by the salmon’s immune system.

AquaVac*Ergosan Immunomodulator enhances the nutritional status and ability of the fish to respond to the vaccine. Optimum results are  achieved by utilizing high quality diets, optimizing the feed rates and including the immunomodulator.

Pencegahan terhadap serangan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kolam dan kualitas air.



Sumber Referensi :

Afrianto,E dan Liviawaty, E. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

Cipriano, RC., 1983. Bacterial and Viral Diseases of Fish. Editor Crosa, J. H./A Washington Sea Grant Publication, University of Washington, Seattle.

Cipriano, RC dan Bullock, GL. 2001.  Furunculosis And Other Diseases Caused By Aeromonas salmonicida. Fish Disease Leaflet 66.

Duijn, CV. 1973. Disease of Fishes 3rd. Illife Books: London.

Handayani, H dan Samsudari, S. 2005. Parasit dan Penyakit Ikan. UMM Press: Malang. Hal 26-27.

Holt, J. G., N. R. Krieg, P. H. A. Sneath, J. T. Staley, S. T. Williams. 1994. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology, Ninth Edition. Williams and Wilkins, Baltimore, Maryland.

Fox. 2002. Lecture 4: Bacterial Disease of Fish and Shrimp, Aquatic Disease and Parasitology, University of Maryland: Australia.

Masada. 2000. Current Research – Aeromonas salmonicida. www.nwfsc.noaa.

Fowler, LG., Leonard, JR. 1982. Fish Hatchery Management. United State Departemen of The Interior Fish and Wildlife Service: Washington DC. Hal 304-306.

Roberts, RJ. 1989. Fish Pathology 2thed. Baillierre Tindall: London, Philadelphia, Sydney, Tokyo, Toronto. Hal 207-311.

Strohmeyer, C., 2008. Treatment and Identification of Aeromonas and Vibrio in Aquarium and Ponds. www.americanaquariumproducts.com

Schachte, JH., 1983. A Guide To Integrated Fish Health Management In The Great Lake Basin, edited: Meyer, FP., Warren, JW., carey, TG., Great Lakes Fishery Commision, Ann Arbor: Michigan.

http://www.microbiologyatlas.kvl.dk/bakteriologi/english/showmorf.asp?articleid=67
http://microbiology.science.oregonstate.edu/salmon_bacteria
http://www.daff.gov.au/animal-plant-health/pests-diseases-weeds/aquatic_animal_diseases_significant_to_australia_identification_field_guide/diseases_of_finfish/bacterial_diseases_of_finfish/infection_with_aeromonas_salmonicida_-_atypical_strains
http://en.wikipedia.org/wiki/Aeromonas_salmonicida
http://www.spaquaculture.com/default.aspx?pageid=525


Blogged with the Flock Browser

No comments:

Post a Comment

No Sara No Anarki....
klik Select Profile ( pilih name/URL dan isilah namamu selengkapmu gan..)